BAB 1: Kolonialisme dan Perlawanan Bangsa Indonesia (Kurikulum Merdeka XI)

A. Keterkaitan Sejarah Regional dan Global

1. Jalur rempah dan interkoneksi Nusantara

  • Nusantara sudah terhubung dengan perdagangan internasional jauh sebelum bangsa Eropa datang. Kota Barus (Sumatra) tercatat dalam peta Ptolemaeus abad ke-1 sebagai penghasil kapur barus.
  • Pelayaran ke India, Cina, dan Timur Tengah sudah berlangsung sejak abad ke-2. Selat Malaka menjadi jalur utamanya.
  • Interaksi panjang ini menjadikan Nusantara “melting pot” budaya, terlihat dari bahasa, agama, struktur sosial, candi, dan masjid.
  • Kesimpulan penting: perdagangan rempah tidak dimulai oleh Eropa. Justru kekayaan rempah Nusantara yang mendorong Eropa datang menguasainya.

2. Jatuhnya Konstantinopel (1453)

  • Turki Utsmani menguasai Konstantinopel, sehingga jalur dagang darat ke Asia tertutup bagi pedagang Eropa dan harga rempah melonjak.
  • Eropa terdorong mencari jalur laut sendiri. Portugis memelopori: Bartholomeus Diaz mengitari Tanjung Harapan (1487), Vasco da Gama tiba di India (1497).

3. Jatuhnya Malaka ke Portugis (1511)

  • Malaka adalah pusat dagang terpenting abad ke-15. Albuquerque merebutnya pada 1511, dibantu konflik internal Kesultanan Malaka.
  • Portugis tetap gagal memonopoli perdagangan Asia karena kekurangan dana dan tenaga, korupsi pejabat, dan pedagang Asia yang pindah ke pelabuhan lain.
  • Kerajaan Nusantara melakukan serangan balik (Demak, Johor, Aceh, Jepara). Laksamana Keumalahayati dari Aceh dikenal sebagai laksamana perempuan pertama di dunia.

4. Kedatangan bangsa Eropa lain

  • Inggris (Francis Drake, 1579) dan Belanda (Cornelis de Houtman tiba di Banten, 1596).
  • VOC dibentuk tahun 1600 dan diperkuat dengan hak oktroi.

B. Perlawanan terhadap Kolonialisme

1. Saudagar dan penguasa lokal

  • Sebelum Eropa datang, saudagar dan penguasa lokal sudah aktif dalam perdagangan dunia.
  • Kota pelabuhan penting antara lain Malaka, Pasai, Banten, Lasem, Tuban, Gresik, dan Makassar.

2. Rivalitas Eropa di Nusantara

  • Perjanjian Tordesillas (1494) membagi wilayah jelajah Portugis dan Spanyol. Perjanjian Saragosa (1529) membuat Spanyol meninggalkan Maluku.
  • Sultan Baabullah dari Ternate mengusir Portugis. Portugis kemudian tersingkir dari Ambon oleh VOC (1605).
  • VOC memindahkan pusatnya ke Batavia di bawah J.P. Coen. Pada 1621 Coen membantai penduduk Banda untuk menguasai pala.
  • Revolusi Prancis dan Perang Napoleon melemahkan Belanda, VOC bangkrut, lalu muncul Daendels (Jalan Raya Pos) dan masa Inggris yang berakhir dengan Perjanjian Tuntang.

3. Catatan penting: “dijajah 350 tahun” tidak sepenuhnya tepat. Belanda awalnya hanya berdagang. Penguasaan wilayah berlangsung bertahap dan banyak daerah baru ditaklukkan belakangan.

4. Perlawanan sebelum abad ke-19 (melawan VOC)

  • Mataram: Sultan Agung menyerang Batavia (1628 dan 1629) tetapi gagal karena wabah dan lumbung logistik dibakar.
  • Banten: Sultan Ageng Tirtayasa dikalahkan lewat politik adu domba (devide et impera) antara dirinya dan putranya, Sultan Haji.
  • Gowa-Tallo: Sultan Hasanuddin kalah dalam Perang Makassar, berakhir dengan Perjanjian Bongaya yang mengesahkan monopoli VOC.

5. Perlawanan setelah abad ke-19 (melawan Hindia Belanda)

  • Maluku (1817): Pattimura dan Martha Christina Tiahahu menolak monopoli cengkeh dan kerja rodi.
  • Perang Diponegoro (1825-1830): perlawanan tersulit bagi Belanda. Belanda memakai Benteng Stelsel, lalu menangkap Diponegoro lewat tipu muslihat perundingan.
  • Palembang: Sultan Mahmud Badaruddin.
  • Perang Padri (1821-1838): Tuanku Imam Bonjol. Awalnya konflik kaum adat dan kaum Padri, lalu Belanda ikut campur.
  • Tapanuli (1870-1907): Sisingamangaraja XII.
  • Bali: I Gusti Ketut Jelantik, dipicu sengketa Hak Tawan Karang.
  • Perang Banjar (1859-1905): Pangeran Antasari.
  • Ciri umum: perlawanan bersifat kedaerahan, dipimpin tokoh lokal, mengandalkan senjata, dan mudah dipecah dengan adu domba.

C. Dampak Penjajahan

  1. Ekonomi: tanam paksa (cultuurstelsel, Van den Bosch) menyengsarakan rakyat tetapi memperluas komoditas ekspor. Setelah itu muncul sistem ekonomi liberal dan UU Agraria 1870 (hak erfpacht), yang mendatangkan investasi swasta, perkebunan besar, pabrik, dan irigasi. Pembukaan Terusan Suez mempercepat ekspansi ini.
  2. Urbanisasi: kota seperti Surabaya, Batavia, Bandung, dan Semarang tumbuh pesat. Pemukiman khusus Eropa juga bermunculan.
  3. Sosial-budaya: pendidikan dan teknologi (kereta api, kapal uap, telepon, radio) diperkenalkan, tetapi akses awalnya sangat terbatas bagi pribumi.
  4. Kesehatan: layanan awalnya diskriminatif. Pada masa Politik Etis berdiri STOVIA (“Sekolah Dokter Jawa”) dan dinas pemberantasan penyakit, misalnya wabah pes.
  5. Mobilitas sosial: perpindahan besar-besaran tenaga kerja ke perkebunan, dengan upah murah, diikat aturan kuli kontrak (Koeli Ordonantie) dan hukuman (Poenale Sanctie).
  6. Sentimen rasial: penduduk dibagi tiga golongan, yaitu Eropa, Timur Asing, dan Pribumi. Muncul pula sikap merendahkan pribumi (“inlander”).
  7. Politik: hak oktroi VOC, lalu Politik Etis (1901) yang melahirkan kaum terpelajar. Volksraad (1918) mempertemukan elite bumiputera dari berbagai daerah. Dari sinilah muncul organisasi pergerakan: Boedi Oetomo (1908), Sarekat Dagang Islam (1911), dan Indische Partij (1912).

Poin Refleksi

  • Perlawanan dari berbagai daerah menunjukkan semangat menolak penjajahan, meski belum terorganisir secara nasional.
  • Dampak kolonialisme punya sisi merugikan dan sisi yang masih terasa sampai kini. Kritis terhadap sumber sejarah penting agar tidak terjebak narasi sepihak.

Related Posts:

0 Response to "BAB 1: Kolonialisme dan Perlawanan Bangsa Indonesia (Kurikulum Merdeka XI)"

Post a Comment